Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhadapa dengan
berbagai peristiwa yang ada di sekeliling kita. Tentunya perubahan dalam
peristiwa tersebut ada yang harus kita selesaikan atau kita atasi bersama,
terutama yang ada hubungannya dengan Agama Islam. Oleh karena itu
kita perlu menambah wawasan melalui mempelajari sejarah tokoh /
pimpinan atau para ulama yang hidup di masa yang lalu, sehingga kita
bisa mengambil pelajaran untuk hidup berbangsa dan bernegara serta
berkepedulian terhadap aspek-aspek sosial yang selalu berkembang di
masyarakat.yang kesemuannya itu bisa kita jadikan sebagai tambah
wawasan.tentu saja wawasan itu untuk ikut serta dalam mengembangkan
agama Islam di masyarakat dan negara dalam era majunya perkembangan
jaman.

Penyelenggara Khaul
K. Nur Iman Mlangi
TIM PENYUSUN
Naskah
: H.Sri pujo
Editor
: 1.Taufik Hidayat
2. Ma'wal Adib
Lay Out
: Syukron Arif M
Penanggung jawab
: KH.Abdullah
SILSILAH RAJA MATARAM

SEJARAH MBAH KYAI NUR IMAN
Berdirinya dusun mlangi
1. Latar Belakang.

Menelusuri jejak sejarah Mbah Kyai Nur Iman, tidak dapat di
lepaskan dari awal mula keberadaan dusun mlangi.untuk itu kita perlu
mengetahui sejarah berdirinya Dusun / Kampung Mlangi, ini berarti kita
pun sekilas perlu menengok kembali Sejarah Kerajaan Mataram / Babad

Tanah Mataram. Pada waktu itu di Kerajaan Mataram yang
beribukotakan Kartosuro, banyak diwarnai sengketa diantara para
pangeran, terutama masalah yang menyangkut suksesi. Walaupun raja
yang sedang memerintah telah mentiapkan penggantinya, namu setelah
Raja mangkat, pergantian tahta sering berlangsung tidak mulus. Apalagi
ditambah politik penjajah Belanda yang licik dan jahat, seringkali
mengadu domba keluarga Raja termasuk para pangeran, yang akhirnya
menjadi terpecah belah.

Pertentangan di dalam Keluarga Kerajaan Mataram setelah sunan / Susuhan / AMangkurat II surut / meninggal pada tahun 1703, memberi peluang bagi VOC untuk mencampuri urusan kerajaan. Dengan maksud memecah belah, Belanda membantu Pangeran Puger, adik Amangkurat II untuk merebut tahta menghadapi Sunan Mas, Putra Amangkurat II yang menjadi Amangkurat III.

Kompeni Belanda mengangkat pangeran Puger menjadi Paja
dengan gelar Susuhunan Paku Buwono 1. Pada waktu itulah seorang
Pangeran yang bernama R.M. Suryo Putro yang merasa sangat sakit hati
atas peristiwa itu, sehingga memutuskan untuk pergi keluar Kraton
menuju ke arah Timur / Brang Wetan.

Dalam perjalanannya paneran Suryo Putro / R. M. Suryo Putro
sampai di Surabaya. Di sana ada satu kampung yang bernama kampung
Gedangan. Secara kebetulan di kampung tersebut ada sebuah Pondok
Pesantren namanya Pondok Pesantren Gedangan. Pengasuh Pondok
Pesantren Gedangan saat itu adalah Kyai Abdullah Muhsin. Singkat
cerita, R. M. Suryo Putro akhirnya menjadi santri di Pondok Pesantren
tersebut dan berganti nama M. Ihsan.

Salah satu kegiatan rutin yang diadakan di pondok pesantren
Gedangan setiap 35 hari sekali (selapan dina) adalah pengajian umum.
Tidak terduga, suatu saat, ketika Kyai Abdullah Muhsin mengadakan
pengajian lapanan, dating berkunjung seorang pejbat negara. Beliau
adalah Adipati Pasuruhan yang bernama Adopati Wironegoro. Adipati
Wironegoro meripakan gelar yang diberikan Raja Mataram Kartosuro /
Amangkurat II kepada Untung Suropati. Gelar tersebut diberikan sesuai
dangan jabatannya sebagai Adipati Pasuruhan, berkat keberhasilan
Untung Suropati membunuh pimpinan Kompeni Belanda yang bernama
Kapten Tok.

Kehadiran seorang pejabat negara diacara pengajian yang diadakan
oleh Pondok Pesantren yang diasuhnya, tentu saja membuat Kyai
Abdullah Muhsin merasa senang dan menyambutnya penuh kehormatan.
Kebetulan yang menyajikan hidangan untuk para tamu tersebut adalah
santri–santri pondok, termasuk M. Ihsan sebagai pimpinan. Pada waktu
Ihsan mondar-mandir di muka tempat duduk Kanjeng Adipati guna
menyajkan hidangan, ternyata Kanjeng Adipati mengamatinya dengan
seksama. Hal ini karena beliau merasa sudah pernah bertamu, dan beliau
yakin sekali kalau santri itu adalah seorang bangsawan.

Setelah pengajian tersebut selesai, Kanjeng Adipati tidak segera
pulang, tetapi justru meminta kepada Kyai Abdullah Muhsin supaya
memanggil santrinya yang diduganya sebagai bangsawan tadi. Demi
penghormatan terhadap pejabat negara, maka Kyai Abdullah Muhsin,
segera memanggil santrinya yang bernama Ihsan. Dalam benak sang Kyai
bertanya-tanya apakah sebabnya Kanjeng Adipati ingin sekali bertamu
dengan santrinya itu.

Tidak berapa lama kemudaian, M. Ihsan yang berwajah tampan
dan santun itupun menghadap Kanjeng Adipati Wirlonegoro. Setelah
bersalam-salaman baik Kanjeng Adipati Wironegoro maupun M.Ichsan
atau R.M. Suryo Putro saling meyakini dan tidak lupa bahwa mereka
sudah saling mengenal sebelumnya.Kepada Kyai Abdullah Muhsin,
kedua Priyogung itu meminta untuk merahasiakan pertemuan tersebut
dan tetap menganggap pangeran R.M.Suryo Putro sebagai santri biasa,
jangan sampai ketahuan kalau beliau adalah seorang bangsawan. Sambil
pamitan pulang Kanjeng Adipati memohon dengan hormat kepada
pangeran untuk sudi berkunjung ke Kadipaten dengan menyamar, yang
segera disanggupi oleh Pangeran.

Pada suatu saat, Pangeran berkesempatan berkunjung ke Kadipaten
untuk menyampaikan pesan yang isinya jangan sampai keberadaan beliau
di Pondok Pesantern Gedangan diketahui oleh keluarga / kerabat Kraton.
Selama berkunjung di Kadipaten Pasuruhan, Pangeran dijamu secara baik
dan dikenalkan dengan semua keluarga Adipati Wironegoro termasuk
putrinya yang bernama R.A.Retno Susilowati.

Dari waktu berganti waktu, dengan pertimbangan yang sangat
matang antara Kanjeng Adipati Wironegoro, Kyai Abdullah Muhsin dan
Pangeran R.M. Suryo Putro atau M.Ihsan, diambillah keputusan untuk
menikahkan Pangeran R.M. Suryo Putro dengan putri Kanjeng Adipati
yaitu R.A. Retno Susilowati. Kemudian setelah pernikahan tersebut, R.A.
Susilowati pun diboyong ke Pondok Pesantren Gedangan untuk
sementara waktu.

Sementara itu, selama ditinggal pergi oleh R.M. Suryo Putro,
keadaan Kerajaan Mataram semakin tidak menentu. Hal ini dipicu oleh
akal licik Belanda yang mengangkat / mengganti Raja dengan maksud
menimbulkan konflik internal diantara para Pangeran sehingga timbul
perpecahan diantara mereka Pada saat masa keprihatinan tersebut, Raja
mendapat kabar dari telik sandi bahwa Pangeran Suryo Putro berada di
Surabaya berguru di Pondok Pesantern Gedangan yang diasuh oleh Kyai
Abdullah Muhsin.
Sang Raja kemudian mengirim utusan untuk menjemput sang
Pangeran kembali ke Mataram Kartosuro. Karena hal itu merupakan

perintah Raja, Sang Pangeran tidak dapat mengelak lagi. Sementara itu
istri Pangeran yang sedang hamil dititipkan kepada Kyai Abdullah
Muhsin. Pangeran berpesan bahwa apabila istrinya melahirkan, jika yang
terlahir adalah bayi laki-laki diberi nama R.M. Sandiyo, namun bila
perempuan, pemberian namanya diserahkan Kyai Abdullah Muhsin.
Pangeran juga meminta pada Kyai Abdullah Muhsin, agar mendidik anak
tersebut sampai menguasai ilmu agama secara sempurna. Dan setelah
dewasa sang anak akan dijemput untuk pulang ke Mataram Kartosuro.

Setibanya di Mataram Kartosuro,sang Pangeran langsung
dinobatkan menjadi raja dengan gelar Susuhunan Amangkurat Jawi /
Amangkurat IV. Kanjeng Susuhunan Amangkurat IV memerintah kurang
lebih pada tahun 1719-1726. Sebelum meningal, beliau teringat pernah
menitipkan istri yang bernama R.A. Retno Susilowati yang ketika
ditinggal sedang hamil. Mengingat hal itu sudah terjadi beberapa tahun
yang lalu, diperkirakan bayi tersebut sudah tumbuh dewasa.
2. Perjalanan R.M.Sandiyo (M.Nur Iman) ke Mataram Kartosuro

Sang Raja kemudian memberi perintah kepada punggawa Kraton
untuk menjemput putranya dan mengajaknya kembali ke Kraton
Kartosuro agar dapat berkumpul dengan keluarga / kerabatnya, termasuk
para Pangeran.

Adapun putra Raja yang lahir di Pondok Pesantren Gedangan
tersebut telah tumbuh menjadi Priya yang gagah dan tampan. Sesuai
amanat Ayahandanya, ia diberi nama R.M. Sandiyo. Selain itu, Kyai
Abdullah Muhsin juga memberinya nama yaitu M. Nur Iman. Nama ini
sesuai dengan tindak tanduknya yang arif dan bijak selama menjadi
santri.M. Nur Iman yang telah menguasai ilmu agama secara sempurna
memang sangat didambakan oleh Kyai Abdullah Muhsin, karena amal
ilmunya yang tinggi serta kesolehannya. Sang Kyai pun yakin bahwa
setelah dewasa M. Nur Iman akan menjadi Ulama besar yang masyhur.

Pada waktu utsan sang Raja tiba untuk menjemput dirinya, R.M.
Sandiyo atau Nur Iman bersedia pulang ke Mataram Kartosuro asalkan
keberangkatannya tidak bersama-sama dengan utusan sang Raja. Setelah
pamit dan minta do'a restu pada sang guru, R.M. Sandiyo atau M. Nur
Iman berangkat menuju Mataram Kartosuro dengan ditemani 2 orang
sahabat yang dikasihi dan dicintainya yaitu Sanusi dan Tanmisani. Sang
Kyai berpesan agar M. Nur Iman tidak melupakan visi dan misinya
sebagai seorang ulama, yaitu menyampaiakan amar ma'ruf nahi munkar,
kapan dan dimana saja. Juga untuk berjuang menegakkan kebenaran
Islam serta mendirikan Pondok Pesantren dimana ia bertempat tinggal.
Dalam perjalanannya menuju kearah barat, M. Nur Iman beserta
kedua temannya sekaligus melakukan dakwah demi berkembangnya

agama Islam. Dari kampung ke kampung, dari desa ke desa hingga di
setiap kota yang dilalui, M. Nur iman beserta kedua temanyya senantiasa
berdakwah, bahkan berhasil mendirikan Pindok Pesantren. Sebur saja
misalnya Pondo Pesantren yang ada di sepanjang Ponorogo dan Pacitan.
Sehingga perjalanan ini memakan waktu hingga beberapa tahun.

Setelah sekian lama menempuh perjalanan, M. Nur Iman dan
kedua temannya akhirnya sampai di kerajaan Mataram Kaeta suro dan
langsung menghadap / sungkem pada Ayahandanya, Kanjeng Susuhan
Amangkurat 1V. Pada pertemuan itu, selain bertemu dengan saudara-
saudaranya, termasuk para pengeran, M. Nur Iman mendapat gelar, B. P.
H. (Bendoro Pangeran Hangabei). Sel;ain itu M. Nur Iman juga mendapat
rumah kediamannya di Sukowati.
3. Perjanjian Giyanti

Kondisi Krato yang dilannda perpecahan akibat campur tangan
Kompeni Belanda, yang membantu susuhunan pakubuwono 111,
membuat R. M. Sandiyo / Kyai Nur Imasn prihatin. Hinnga akhirnya
terjadilah perang saudara, diman dalam perang ini ada dua pangeran yanh
bersekutu, yaitu Pangeran Sambar Njowo / R. M. said dengan Pangeran
Mangkubumi / R. M. Sujono. Keadaan seoerti ini masih diperkeruh lagi
dengan adanya huru-hara antara bangsa Tionghoa dengan Kompeni
Belanda yang sering disebut Geger Pecinan. Pereng yang sangat
melelahkan dan menghabuskan biaya / dana terlalu banyak tesebut
akhirnya bisa diakhiri, dengan adanya perjanjian perdamaian antara
pihak-pihak yang bertikai. Perjanjian perdamaian tersebut terjadi kurang
lebih pada tahun 1755 di desa GIyanti, sehngga perjanjian itupun diberi
nama Prjanjian Giyanti. Isi dari Perjanjian Giyanti antara lain :
1.Kerajaan Mataram Kartosuro didagi menjadi dua :
Dari Prambanan ke timur menjadi milik Susuhunan
Pakubuwono 111, beribukota di Surokarto.
Dari Prambanan ke barat dengan ibukota Yogyakarta,
menjadi milik Pangeran Mangkubui yang kemudian
bergelar Sultan Hamenku Buwono I.

2.Pangeran Sambar Njowo / R. M. Said diberi kedudukasn sebagai
Adipati denagn gelar Adipati Mangkunegoro I dan diperbolehkan
mendirikan sebuah Puro. Puro tersebut diberi nama Puro
Mangkunegoro.
Adanya Perjanjian Giyanti ini ternyata dapat meredakan

ketegangan yang terjadi antara Mataram Surokarto dengan Mataram
Yogyakarta ditambah Puro Mangkunegoro, sehingga suasana pun
menjadi tenteram. Dalam keadaan tenteram inilah, kedua Raja menjadi
teringat bahwa mereka masih mempunyai saudara yang bernama BPH

Sandiyo / Kyai Nur Iman. Kemudian masing- masing Raja
memerintahkan prajuritnya untuk mencari tahu keberadaan BPH. Sandiyo
/ Kyai Nur Iman.
4.Asal-usul Nama Mlangi

Sementara itu, BPH. Sandiyo / Kyai Nur Iman, pada waktu perang
saudara berkecamuk justru memutuskan untuk pergi keluar benteng
Kraton beserta kedua teman akrabnya, Sanusi dan Tanmisani.

Dengan semangat tinggi dan kemauan keras, Kyai Nur Iman dan
kedua temannya melakukan perjalanan, melaksanakan da'wah
mengembangkan agama Islam.Mereka juga menanamkan jiwa
patriotisme guna menimbulkan rasa benci masyarakat terhadap kaum
penjajah yaitu Kompeni Belanda. Perjuangan dan seruan BPH. Sandiyo /
Kyai Nur Iman bersama kedua temannya ternyata disambut rakyat
dengan sepenuh hati, sehingga agama Islam pun berkembang dengan
pesat.

Dari arah Kartosuro ke Barat, sampailah perjalanan Kyai Nur Iman
dan kedua temannya itu di suatu daerah di Kulon Progo. Kedatangannya
diterima dengan senang hati oleh seorang Demang yang bernama Hadi
Wongso. Demang Hadi Wongso adalah penguasa deda Gelugu, yang
kemudian bersama keluarganya bersedia memeluk agama Islam.

Tak lama berselang, setelah demang Hadi wonso memahami
bahwa Kyai Nur Iman nyata-nyata adalah Ulama Besar. Dia memohon
dengan hormat agar Kyai Nur Iman bersedia menikah dengan putrinya
yang bernama Mur Salah. Begitu juga dengan kedua pendereknya, Sanusi
dinikahkan dengan Maemunah, sementara Tanmisani menikah dengan
Romlah. SEtelah Demang Hadi Wongso meninggal dunia, Kyai Nur
Iman sekeluarga pindah tempat ke utara, disebelah timur Kali Progo,
yaitu desa Kerisan. Di desa yang masuk wilayah Yogyakarta inilah Kyai
Nur Iman bertemu dengan utusan Sultan Hamenku Buwono 1, yang
kemudian meminta beliau untuk kembali ke Kraton.

Pada tahun 1976, Jumenengan Pangeran Mangkubumi menjadi raja
Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Ngarso Dalem
Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kaneng Sultan Hamengku Buwono
Senopati Ing Alogo Khalifatullah Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo
ingkang Jumeneng Sepisan. Orang umum lebih mengenal dengan sebutan
Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Atas kebijaksanaan Raja, beliau memberikan hadiah berupa tanah
perdikan kepada saudara tertuanya, yaitu BPH. Sandiyo / Kyai Nur Iman.
Oleh Kyai Nur Iman, tanah perdikan tersebut dijadikan kampung / desa
tempat pendidikan dan pengembangan agama Islam. Tidak lama
kemudian di tempat itu berdirilah rumah yang dipetrgunakan untuk

memberi pelajaran (Mulangi) agama. Atau istilah sekarang disebut
Pondok Pesantren. Dari asal kata MULANGI inilah kemudian menjadi
nam kampung /dusun MLANGI.
5. Pembangunan Masjid Patok Negoro di Mlangi.

Zaman pemerinthan Sru\i Sulatn Hamengku Buwono I merupakan
masa kejayaan Yogyakarta Hadiningrat. Dalam bahasa pewayangan, Ki
Dalang biasa menyebutnya sebagai negara yang gemah ripah pasi wukir
tata raharjo loh jinawi. Kehidupan agama dan seni budaya berkembang
pesat. Setelah wafat, Sri Sultan Hamengku Buwono I digantikan
putranya yang pada waktu muda nernam R. M. Sundoro, dengan gelar
Sultan Hamengku Buwono II. Beliau sangat nasionalis, cinta kepada
negaranya dan bersedia berkorban bagi kepentingan rakyatnya. Lebih-
lebih mengeb\nai perkembangan agama, sangat diperhatikan, hal ini
telihat dari eratnya hubungan antara ulama dengan umaro.

Di masa pemerintahannya, Sultan Hamengku Buwono II
menerima arahan dari Kyai Nur Iman, yang masih ada hubungan
keluarga, untuk membangun empat Masjid besar. Guna melengkapi dan
mendampingi Masjid yang sudah berdiri lebih dulu, yaitu Masjid di
Kampung Kauman, disamping Kraton. Masjid yang disarankan oleh Kyai
Nur Iman untuk dibangun terletak di empat arah dan diberi nama Masjid
Patok Nagari / Patok Negoro :
Di sebelah Barat terletak di dusun
Mlangi
Di sebelah Timur terletk di desa
Babadan
Di sebelah Utara terletek di desa Ploso
Kuning
Di sebelah Selatan terletak di desa

Dongkelan
Adapun yang mengurusi Masjid-Masjid Tersebut adalah putra-putra dari
Kyai Nur Iman :
Masjid Patok Negoro Ploso Kuning diurus oleh Kyai
Mursodo
Masjid Patok Negoro Babadan diurus oleh Kyai Ageng
Karang Besari
Masjid Patok Negoro Dongkelan dirus oleh Kyai Hasan
Besari
Masjid Patok Negoro Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman.

Besarnya kepedulian Sri Sultan Hamenku Buwono II untuk
mendirikan masjid didesa-desa, membuat Masjid-Masjid tersebut dikenal
sebagai masjid Kagungan Ndalem atau Masjid Kasultanan, dikarenakan
kepengurusan / Takmir Masjid termasuk abdi Ndalem Kraton.
Pada tahun 1953, oleh Ngarso Ndalem Masjid Mlangi diserahkan
kepada rakyat yang diberi nama Masjid Jami' Mlangi.Serah terima Masjid

diwakili oleh alim ilama dan tokoh masyarakat, antara lain ;
1.Kyai Siruddin
2.Kyai Masduki
3.M. Ngasim
Sekilas Perang Diponegoro

Sesuai dengan amanat Ayahandanya, Yaitu Sri Sultan Hamengku
Buwono II atau Sultan Sepuh, Sultan Hamengku Buwono III melakukan
perlawanan terhadap penjajah. Sikap nasionalis dan patriotis juga beliau
wariskan kepada putranya yaitu Kanjeng Pangeran Diponegoro, seorang
pahlawan nasionalis legendaris yang populer hingga saat ini. Dengan jiwa
keberanian menentang kaum penjajah, ditambah adanya keyakinan bahwa
dalam ajaran Islam, perang dalam rangka membela kebenaran dan
keadilan demi tegaknya agama Allah adalah Jihad Fii Sabiilillah.
Keyakinan ini tampak dari pakaian yang dikenakan oleh Pangeran
Diponegoro yang berserban dan berjubah, sebagaimana pakaian seorang
ulama / auliya'. Perang Diponegoro sendiri terjadi pada tahun 1825-1830.

Perang Diponegoro inipun ikut melibatkan anak cucu Mbah Kyai
Nur Iman. Hal ini sesuai dengan semangat patriotisme dan amanat Beliau
kepada anak cucunya untuk selalu menentang kaum penjajah,
menegakkan kebenaran dan keadilan serta untuk selalu berjihad dijalan
Allah demi tegaknya agama Islam. Bahkan dalam peperangan, salah
seorang putra Mbah KYai Nur Iman yang bernama Kyai Salim, gugur di
desa Ndimoyo. Kyai Salim yang gugur inipun dikenal dengan nama Kyai
Syahid, karena dalam Islam seorang yang berjihad apabila gugur disebut
mati Syahid.

Belanda mengakhiri Perang Diponegoro dengan cara yang licik.
Dengan tipu muslihat Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro
di Magelang. Pada waktu Kanjeng Pangeran Diponegoro ditangkap, ada
seorang prajurit yang menjadi pengawal pribadi Pangeran Diponegoro
yang juga ikut ditangkap, yaitu Kyai Hasan Besari. Kyai Hasan Besari ini
merupakan salah seorang putra Mbah Kyai Nur Iman. Mereka ditangkap
dan diasingkan ke Manado.
Meninggalnya Mbah Kyai Nur Iman

Setelah Perang Diponegoro berakhir, Kompeni Belanda berani
menghadap Sultan Hamengku Buwono III. Mereka membujuk dan
memutarbalikkan fakta, bahwa Pangeran Diponegoro dan seluruh
pengikutnya adalah pemberontak. Hal ini membuat prajurit dan pengikut
setia Pangeran Diponegoro yang masih tersisa, termasuk putro wayah
Mbah KYai Nur Iman tidak berani kembali ke desa asalnya, karena takut
ditangkap oleh Kompeni Belanda. Dimana para pengikut dan prajurit itu
mendapat tempat yang aman, disitulah mereka bermukim. Sehingga
secara tidak langsung terjdi penyebaran penduduk dan agama. Kejadian
ini juga menjadikan keturunan Mbah Kyai Nur Iman tersebar tidak hanya
di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tapi juga yang ada di Jawa Barat dan
Jawa Timur bahkan ada yang diluar jawa.

Sementara itu, Mbah Kyai Nur Iman sendiri memilih bertempat
tinggal di dusun Mlangi hingga akhir hayatnya, tepatnya disebelah barat
Masjid Mlangi. Setelah meninggal, Mbah Kyai Nur Iman dimakamkan di
belakang Masjid. Makam tersehbut dinamakan Makam Pangeran Bei /
Pesareyan Kagungan Dalem Kasultanan, sehinnga gapura masuk
kompleks Pesareyanpun berciri khas Kraton.

Dan sebagaiman makam para Auliya' dan Ulama Besar yang lain,
Makam Mbah Kyai Nur Iman juga banyak dikunjungi tamu-tamu yang
berziarah dari luar daerah, bahkan dari luar Pulau Jawa. Para Peziarah ada
yang perorangan maupun berombongan.
Mbah Kyai Nur Iman Meninggalkan 14 Putra dan 4 Istri :
Dari istri I, Beliau meninggalkan 9 orang putra dan putri, yaitu:
1. Kyai Mursodo
4. R.M.Taftoyani
7. Kyai Muhsin Besari
2. Kyai Nawawi
5. Kyai Mansur
8. Kyai Musa
3. Nyai Safangatun 6. Nyai Murfakiyyah
9. Nyai Karang Mas
Dari istri II, Beliau meninggalkan 3 orang putra dan putri, yaitu:

1. Nyai Soleh
2. Kyai Salim
3. Nyai Jaelani
Dari istri III, Beliau meninggalkan 2 orang putri, yaitu:
1.Nyai Abu Tohir
2.Nyai Mas Tumenggung
Dari istri IV, Beliau meninggalkan 1 orang putra, yaitu:
1.Kyai Rofingi (R.M. Mansjur Muhyidin-Kyai Giru Loning)

Diantara putra-putri Mbah Kyai Nur Iman ada yang diangkat
sebagai Bupati Sempon / Kedu, yaitu Kyai Taftoyani. Ada pula yang
sebagai Penghulu Kraton, yaitu Kyai Nawawi.
Pondok Pesantren Mlangi

Hingga saat ini, seiring dengan majunya zaman dan
berkembangnya dunia pendidikan, di dusun Mlangi telah tumbuh
beberapa Pondok Pesantren, diantaranya :
1.PP. Al-Miftah yang diasuh oleh Kyai Siruddin diteruskan oleh KH.
Munahar.
2.PP. As-Salafiyyah yang diasuh oleh Kyai Masduqi diteruskan oleh
KH. Suja'I Masduqi.
3.PP. Al-Falahiyyah yang diasuh oleh KH. Zamrudin diteruskan oleh

Ny. Hj. Zamrudin.
4.PP. Al-Huda yang diasuh oleh KH. Muchtar Dawam.
5.PP. Mlangi Timur yang diasuh oleh KH. Wafirudin diteruskan oleh

Ny. Hj. Wafirudin.
6.PP. Hujjatul Islam yang diasuh oleh KH. Qothrul Aziz.
7.PP. As-Salimiyyah yang diasuh oleh KH. Salimi.
8.PP. An-Nasyath yang diasuh oleh KH. Sami'an.
9.PP. Ar-Risalah yang diasuh oleh KH. Abdullah.
10.PP. Hidayatul Mubtadiin yang diasuh oleh KH. Nur Iman Muqim.
Adapun Pondok Pesantren yang ada diluar daerah Yogyakarta yang
ternyata masih keturunan Mbah Kyai Nur Iman, antara lain:
1.PP. Watu Congol, Muntilan yang diasuh oleh KH. Ahmad Abdul
Haq.
2.PP. Tegalrejo, Magelang yang diasuh oleh KH. Abdurrahman
Khudlori.
3.PP. Al-Asy'ariyyah, Kalibeber Wonosobo yang diasuh oleh KH.
Muntaha.
4.PP. An-Nawawi, Berjan Purworejo yang diasuh oleh KH.
Khalwani.
5.PP. Bambu Runcing, Parakan Temanggung yang diasuh oleh KH.

Muhaiminan.
6.PP. Secang, Sempu, Magelang yang diasuh oleh KH. Ismail Ali.
7.PP. Nurul Iman, Jambi yang diasuh oleh KH.Sohib dan Ny. Hj.
Bahriyah.
Selain itu, Mbah Kyai Nur Iman juga menulis 2 buah karya ilmiah,

yaitu :
1.Kitab Taqwim (Ringkasan Ilmu Nahwu)
2.Kitab Ilmu Sorof (Ringkasan Ilmu Sorof)
Tradisi agamis dan amalan yang masih dilestarikan hingga saat
ini, antara lain :
1.Ziaroh / ngirim Ahli Qubur dengan cara membaca tahlil dan Al-
Qur'an Surat Al-Ikhlas, dan lain-lain.
2.Membaca Sholawat Tunjina (untuk memohon keselamatan di
dalam hajatan-hajatan).
3.Membaca sholawat Nariyah (untuk selamatan orang hajat seperti
orang hamil, dan lain-lain).
4.Membaca Kalimah Thoyyibah, Tahlil Pitung Lekso (Khususnya

jika diperlukan untuk obat / tombo sapu jagad).
5.Manaqiban / Abdul Qodiran.
6.Dalam bentuk kesenian :
Barzanji / Rodadan
Sholawatan / Kojan dan lain-lain.

Untuk menghormati dan mengenang sejarah perjuangan Mbah
Kyai Nur Iman, para alim ulama dan tokoh masyarakat sepakat
mengadakan Khaul, yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan Suro
malam tanggal 15. Adapun pelaksana penyelenggaraan acara Khaul
Mbah Kyai Nur Iman adalah KH. Abdullah, Pengasuh Pondok Pesantren
Ar-Risalah dengan didukung sepenuhnya oleh masyarakat Mlangi.

Demikianlah sejarah singkat Mbah Kyai Nur Iman atau BPH.
Sandiyo, seorang ulama / Auliya', sekaligus juga seorang bangsawan dan
cikal bakal pendiri dusun Mlangi. Semoga tulisan ini dapat memberi
manfaat bagi siapa saja, setidaknya sebagai dokumentasi serta sumbangan
wawasan dan khazanah pengetahuan, khususnya bagi yang memiliki
ketertarikan terhadap sejarah dan tokoh Islam di Pualu Jawa. Namun
demikian, mengingat keterbatasan sumber-sumber yang dapat dijadikan
rujukan, baik yang tertulis maupun berupa riwayat-riwayat dan bukti-
bukti otentik yang dapat dipertanggung jawabkan, maka tidak menutup
kemungkinan adanya kekeliruan atau hal-hal penting yang tidak
tercantum dalam penulisan sejarah singkat ini. Untuk itu kami senantiasa
mengharapkan sumbang saran dan masukan dari siapa saja yang tentunya
akan sangat berguna bagi kelengkapan sejarah milik kita bersama ini.
 
Top