Kisah politisi radikal

Haji Ahmad lahir tahun 1919. Jabatannya pada masa peristiwa 1965-66 terjadi sebagai KetuaTanfidziyah PCNU. Bapaknya bernama Raden Bagus, dari trah Mataram Jogjakarta sampai Kiai Mojo, kerabat dekat Pangeran Diponegoro. Bapaknya berpindah-pindah pesantren dan pernah nyantri di Lirboyo Kediri, teruske timur hingga tinggal di Blambangan.

Haji Ahmad mengaku bahwa didikanayahnya sangatlah keras. Pernah Haji Ahmad dimasukkan ke Sekolah Rakyat. Tetapi tidak lama, diusir oleh gurunya. Akibatnya, tiap malam Jum’at Haji Ahmad harus hafal dziba’ di luar kepala. Kisahnya, di Sekolah Rakyat gurunya bernama Romo Sastro. Non muslim. Orangnya pandai tetapi ngingu anjing yang selalu ikut ke sekolah. Haji Ahmad kebetulan murid yang tidak rewel, pendiem hingga duduk di bangku depan. Jum’at itu, kenang Haji Ahmad, merasa mengantukdan tidak tahu, tiba-tiba anjing Romo Sastro, entah bagaimana, berjalan kearahnya. Karena takut, anjing itu dilempar, tetapi lemparan itu justru mengenai Romo Sastro hingga terjatuh. Haji Ahmad lari ke luar dan tidak pernah kembali sekolah lagi, dan hanya belajar dengan ayahnya di madrasah.

Haji Ahmad ingin mondok diPesantren Tebuireng di Jombang. Tetapi ayahnya hanya janji-janji. Haji Ahmad jengkel. Kalung emas keponakannya yang kecil dicuri untuk digadaikan, dan minggat menuju pak dhe-nya di Jember yang justru mendukungnya untukmeneruskan perjalanan mondok ke Tebuireng. Sendirian di Tebuireng, Haji Ahmadtinggal dengan Mohamad Sholeh, anak orang kaya. Haji Ahmad ikut meladeninyamenyucikan baju dan masak. Waktu itu, Haji Ahmad berumur 14-an tahun di saat pengasuh pesantren Tebuireng adalah Hadlratusysyaikh Hasyim Asy’ari.



Karena aturan belajar yang keras dan hati yang telah goncang karena tidak betah di Tebuireng, Haji Ahmad pindah keSolo mengikuti tamu Hadlratusysyekh, pemuda lulusan Mesir yang sowan dan bermalam di kamar Haji Ahmad. Pemuda itu mendirikan madrasah alarabiyyah al islamiyyah di Solo. Tahun kira-kira 1932, Haji Ahmad pindah keSolo ke madrasahnya sang ustadz di Solo, sambil mengaji di pesantren KeprabonWetan, dengan Romo Kiai Masyhud. Satu tahun berjalan sampai akhirnya ada anakBanyuwangi yang mondok di sana. Melaluinya, Haji Ahmad hanya nitip, jika pulangtemuilah kepala KUA di sana, itu bapakku, Kiai Bagus namanya, sampaikan salam.Sejak itu pula Haji Ahmad berhubungan kembali dengan bapaknya, dikirimi koper,bantal, tikar dan uang tiap bulan 5 rupiah. Sejak pulang dari Solo keBlambangan kira-kira tahun 1936, Haji Ahmad menjadi anggota Ansor dan kemudianterpilih menjadi ketua Ansor Cabang Blambangan, dan dalam konferensi Cabangterpilih menjadi ketua Cabang NU Blambangan.

Pada tahun 1962-63 hubungan NU Blambangan dan NU Banyuwangi memburuk. Konflik berpuncak pada tahun 1964 karenaorang-orang NU Banyuwangi mendukung calon Bupati Banyuwangi yang diajukan olehPKI, yang bernama Suharso Hanafi, SH, kepala Kejaksaan Banyuwangi. Bagi NU Blambangan, karena di dalam AD/ART NU ada ketentuan bahwa jikalau didalam satu kabupaten ada dua cabang, maka politik keluar atau sikap keluarnyaharus satu. Menurut Haji Ahmad, pada waktu itu, NU Banyuwangi telah terkena gelembok orang-orang politik lain.

Sewaktu pemilihan bupati, PKIpengaruhnya besar sekali. Juga karena masih di bawah Bung Karno, akan diangkatbupati calon dari PKI. NU Cabang Banyuwangi setuju. Tidak jelas pertimbangannyaapa[18],tetapi yang menurut Haji Ahmad positif bahwa Haji Ahmad tidak terdorong padaitu, dan masih ingat bahwa PKI itu musuh Islam. PKI itu tidak mengakui adanyaTuhan. PKI itu berpendirian bahwa agama itu opium masyarakat, candu.Lalu Haji Ahmad menuduh NU Banyuwangi melanggar reglement NU, dangeger-geger dimulai. Masyarakat Banyuwangi seluruhnya terpengaruh, dan ikutpernyataan Pimpinan NU Cabang Blambangan. NU kelompok Haji Ahmad akhirnyamencalonkan Joko Supa’at Slamet, Dandim 825, untuk menjadi calon BupatiBanyuwangi, tetapi kalah di dalam pemilihan karena ada dua suara DPD NU yangmembelot mendukung Suharso Hanafi, SH.

Kekalahan di dalam pencalonan bupatiberubah menjadi demontrasi massa. “Tetapi PKI memang hebat, komentarHaji Ahmad. Haji Ahmad dipanggil oleh Pengurus Besar NU, sebab mengadakandemonstrasi. “Barangkali itu awwalu demontrasi di Indonesia.Masyaallah besarnya, kata Haji Ahmad, “hingga tidak dapat melantikbupati terpilih yang dari PKI. Mejanya disileti oleh anak-anak yang demo.Haji Ahmad mengaku juga main mata dengan komandan korem, hingga ABRI tidak adayang bertindak. Hanya pesen jangan merusak, sudah, tidak ada satu tempatpun yang bisa diduduki karena telah diduduki anak-anak yang demo. Gubernur jugatidak dapat ke bupati, dan akhirnya mencari Haji Ahmad yang bersembunyi. HajiAhmad dipanggil, untungnya ada aturan. Bung Karno memang pemimpin yang baik,berkirim surat ke PBNU, “tolong itu dipanggil anak buah sampaean pengurus NUBanyuwangi, Ahmad-Ahmad namanya.

Haji Ahmad dipanggil PBNU dan menghadap Pak KiaiDahlan, di Jl. Jawa nomor 11.

“Lan, saya ini dipanggil kenapa?, tanyaHaji Ahmad.

“Saudara ini lo, kok saya tidak ngerti, dimana-mana ngaco. Di Bawean sampean ngaco, di Surabaya ngaco, sekarang diBanyuwangi ngaco.

“Lo yang saya kaco apa? Apa NU itu bukanpengaco? NU itu pengaco terhadap orang-orang yang tidak setuju NU, terhadapgerakan-gerakan yang lain dari pada NU. NU pasti menjadi pengaco, menjadirivalnya. Kata sampean, PKI itu harus dihantam. Saya hantam malah nyeneni saya. Itu gimana?.

“Ya sampean kesusu-susu.

“Kesusu-susu gimana? Kesempatan itu tidak bolehdilewatkan. Mumpung kesempatan.

“Ya, tapi ini akibatnya ada panggilan ini dariBung Karno soal sampean ini. Untung diserahkan ke PB, kalo tidak sampean bisadihukum.

“Biar pak, saya ridlo ikhlas dihukum, robbisijny ahabbu ilayya mimma yad’unani ilaih. Itu saya. Wailla tasrif ‘annykaidahunn, seperti dikatakan Yusuf dari pada terpengaruh sama setanperempuan. Saya rela dihukum dari pada terpengaruh oleh orang PKI.

“Bisa saja saudara ini .

“Artinya saya terus. Berapa hari di sini pak?Diapakan saya ini? Kalo ndak, saya pulang”.

Ya sudahlah, saudara pulang. Disangoni 25 ribu, Haji Ahmad bilang, “pakuang 25 ribu itu kalo saya minta sama anggota NU perorang 1 rupiah saja,barangkali jutaan rupiah pak. Kok ini 25 ribu, padahal saya ke sini ini hutang,mau saya kembalikan bagaimana?. Haji Ahmad menyatakan ke Pak Dahlan,hingga dikasih 250 ribu, “ha...ha...ha... alhamdulillah, saya mampirke Surabaya untuk beli kain untuk istri saya. Karena itu juga hubungan sayadengan pak Dahlan baik. Lalu ada bentukan DPRD Gotong Royong Daerah Sementara,saya terpilih menjadi ketuanya dan nongkrong menjadi orang besar saya. KetuaDPRD itu kan orang besar, mendapat mobil jelek saya tolak. Ndak mau, mobilnyaharus cocok. Bagus. Kasih nomor mobil, saya tolak. Saya mau nomor 9. Jadi P 9,terang mobil saya. Fanatik saya sama NU. Walaupun sekarang ini saya sama NUtidak begitu seneng. Sekarang lo ya, karena kebijakannya yang saya kurangcocok. Lalu ada pemilu 71 saya diangkat menjadi anggota DPR pusat, 6 tahun sayadi sana, sehingga cukupan lah pensiunan saya. Jadi saya ini akibat NU, akibatperjuangan dihidupi sampai sekarang. Saya tidak punya apa-apa kok selainpensiun. Tetapi pensiun saya itu diberi oleh Tuhan cukup, lawong 3 jutalebih tiap bulan.

Demonstrasi berhenti dan gagal.Tetapi Haji Ahmad mengaku ada jarak waktu perjanjiannya antara Haji Ahmad danPak Dahlan. Suharso Hanafi, SH dilantik dan menjabat sebagai Bupati sampaiakhirnya peristiwa politik 1965 terjadi di Jakarta. Suasana politik diBanyuwangi bergolak kembali. Agitrasi-provokasi, mobilisasi, berujung padapertempuran sipil dan pengganyangan massa yang cepat.Berkaitan posisi bupati mucul kembali demo besar-besaran, hingga bupati SuharsoHanafi “diamankan”, dibawa ke kantor polisi dan dari kantor polisi olehanggota-anggota Kodim dibawa ke Malang, lalu dieksekusi. Selama vacumm pimpinanpemerintahan daerah, sementara dipimpin oleh Badan Pelaksana Harian (BPH) dariNU, sampai di saat Haji Ahmad menjadi ketua DPRD, dengan alasan karena tempatBanyuwangi itu terirorialnya cukup membutuhkan tentara yang paham strategis,maka diusulkan supaya Joko Supa’at Slamet, Dandim 825, diangkat menjadi bupatidan disetujui.

Sebagaimana diketahui, setelahperistiwa politik 1965 ABRI merupakan salah satu golongan penting yangmenentukan. Sehingga karena itu pula pengangkatan Joko Supa’at Slamet sebagaibupati menjadi urusan yang mudah, apalagi dikabarkan bahwa Korem Malang dan “pusat” mendukung.

Haji Ahmad sebagai ketua DPRD danJoko Supa’at Slamet sebagai bupati berhubungan baik, hingga karena kasus tanahbekas pemerintahan Jepang di tahun-tahun menjelang tahun 1970an, keduanyaberseteru. Sebagai wakil rakyat, DPRD berinisiatif untuk membentuk satu badanyang namanya tim checking laporan rakyat, untuk menyelidiki keadaanBanyuwangi. Beberapa laporan masuk, yang perlu dichecking oleh DPRD ituternyata merupakan kesalahan bupati. Dulu tanah-tanah yang bekas pemerintahanJepang diserahkan kepada rakyat dan digarap oleh rakyat dan sudah tinggi,kelapanya sudah berbuah, tahu-tahu oleh bupati dicabut kembali dengan alasanini tanah Jepang. Ini bukan milik rakyat. Prakteknya setelah itu tanahdibagi-bagi ke kalangan para pejabat. Sekian hektar untuk pak Joko, sekian pakSlamet, dan sekian pak Supa’at. Padahal namanya itu Joko Supa’at Slamet.Semuanya diketahui. Bukan hanya itu, tanah-tanah juga diberikan ke seluruhkawedanan, termasuk camat-camat.

DPRD mempermasalahkan tindakanbupati dengan berpegang dengan satu SKB antara menteri pertanian dan menteriagraria yang salah satu keputusannya adalah bahwa tanah-tanah yang sudahdiberikan oleh pemerintan pendudukan Jepang kepada rakyat menjadi haknyarakyat. Rakyat bungah. Mereka datang ke rumah Haji Ahmad dan berterimakasih dengan membawa kacang, pepaya, kelapa dan seterusnya. Tetapi Joko Supa’atSlamet dendam hingga tahun 1976-an mempermasalahkan kembali dan dengan dibantuKopkamtib di era Soedomo dapat memenjarakan Haji Ahmad di saat masih di DPR.Sampai akhir hanyatnya Haji Ahmad menjadi politisi PPP.

Kisah Kiai Pegawai yang Aktifis

Sampai kini (2005), Kiai Mansur[24] adalah orang penting di NU Boyolali. Pada saat 1965 terjadi Kiai berumur 32tahun, pegawai Kota Boyolali dan menjadi pengurus LP. Ma’arif Boyolali. Sempatmenjadi anggota DPRD, tetapi di saat NU bergabung di dalam PPP, Kiai memilihmengundurkan diri, dan kembali menjadi pegawai dan aktif di LP. Ma’arif.Pendidikan Kiai hanya di pesantren, dari Lasem dan di pesantren ayahnyasendiri.

Pada saat itu, Kiai mengaku tidaktahu pasti apa yang terjadi. Hanya terdengar kabar dari radio bahwa di Jakartaada pemberontakan. Di Boyolali saat itu, hanya Bapak Dimyati, ketua PNU saatitu, yang memiliki Radio. Istri Kiai kerabat Bapak Dimyati, teman YasirHadibroto, Dandim Boyolali yang menembak Aidit, Ketua CC PKI. Seringkali,malam-malam Kiai meninggalkan rumah hanya karena ingin mendengarkan radio dirumah Dimyati.

Di Boyolali waktu itu PKI kuat.Bupati Suali dari PKI. Ketika Katamso di Yogyakarta dibunuh, Suali mengajakDimyati dan Mulyono, ketua PNI untuk berta’ziyah. Tetapi mereka menolak.Penjelasan Kiai, sebab kemungkinan dengan alasan berta’ziah Dimyati dan Mulyonoakan dibunuh. Ketua DPRD Boyolali juga mengadakan wayangan di rumahnya. Dimyatidan Mulyono diundang untuk jagongan wayangan. Tetapi tetap tidak datang.Padahal rumah mereka berhadap-hadapan, selatan masjid dan utara masjid. Paginyaada berita bahwa untuk empat orang, termasuk Dimyati dan Mulyono, sudahdisiapkan lubang di belakang rumah. Rencananya, malam berbarengan menontonwayang akan diracun dan dimasukkan ke lubang. Kiai menekankan bahwa memanggencar kabar bahwa orang-orang penting yang anti PKI akan dibunuh.

Pada malam wayangan itu, RPKAD jugasudah datang dan ndongkrok’i wayangan. RPKAD juga melatih pemuda dariBanser NU, Kokam Muhammadiyah dan Marhaen PNI. Suasana Boyolali semakin gentingsetelah peristiwa puluhan Ansor terbunuh di Kemusu, satu daerah “basis merah”.Bahkan karena peristiwa itu, banyak orang-orang NU mengungsi ke rumah Dimyati.Para pemuda yang dilatih pun ngetutke RPKAD untuk pembersihan PKI.Bupati Suali melarikan diri. Ketua DPRD juga lari, kabarnya ke Kemusu. “…mentalSuali memang hebat, tabah, komentar Kiai. Sewaktu tertangkap dan diarakkeliling kota, tangannya dibondo, tetapi masih gagah dan melambaikantangan.

Pertempuran antar orang kampung jugaterjadi. Bahkan lebih kejam, menggunakan senjata panah. Banser dan Kokam diberisenjata, dipimpin oleh ketua Ansor saat itu. Pernah satu malam kelompok dariPKI akan masuk kota melalui jalan selatan rumah sakit umum. Kebetulan ada anakAnsor yang senjatanya tidak berbunyi dan digedhokke ke tanah...dor...berbunyi...eeh…kelompok PKI itu lari. Padahal tidak sengaja dan tidak tahu. PKInya tidak jadi masuk kota.

Tetapi sikap ketua Ansor saat itu sangat baik. “Pokoknya kalau tidak dibunuh jangan membunuh, begituprinsipnya. Setelah banyak orang ditangkap, Kiai juga sempat dijadikan anggotatim litsus. Semua golongan diminta. Dari Muhammadiyah, Masyumi, PNI, IPKI dandari PNU, diminta wakilnya untuk menentukan siapa-siapa yang akan dieksekusi.Tetapi Kiai mengaku tidak mau dan tidak mampu untuk menunjuk siapa haruseksekusi. Kata Kiai, “takut kalau-kalau salah”. Kiai ragu-ragu. PKImemang PKI. Kiai tahu itu. Tetapi apa sudah semestinya dibunuh?

Berat sekali keputusan seseorangharus dibunuh. Sebab tanggungjawabnya sampai dunia-akhirat. Kiai tidak berani,dan hanya mampu mengikuti tiga kali pertemuan. Tetapi, selain Kiai ada jugaorang-orang NU yang betul-betul berani membunuh, bahkan menyembelih denganpedang. Mereka yakin bahwa PKI melawan agama. Terutama mereka yang masih kuat ingatannyaatas kejadian Madiun 1948. Setelah tim diberi daftar daritentara, memang dimusyawarahkan dengan partai-partai selain PKI. Rapatinformal, “ono daftar wong, trus ki piye ki, pati ra?. Tetapi Kiaimengaku bahwa situasinya saat itu tiada lain kecuali PKI salah. Pokoknya PKIsalah. “Pokoke niku, kata Kiai. Beda dengan sekarang. Orang sudah dapatberpikir jernih, apakah PKI benar salah? Apakah PKI akan menguasai pemerintahanseperti di Madiun dulu? Apa PKI diprofokasi?

Setelah bupati Suali hilang, kepemimpinandiganti oleh Dandim. Sedang Dandimnya sendiri diganti orang baru, sampai pemilu1971. Pada tahun menjelang pemilu 1971, ada pertemuan NU Jawa Tengah diSemarang. Kiai datang dengan ketua Ansor. Waktu itu sudah diprediksikan bahwapemilu 1971 nanti akan ada pemaksaan dari penguasa. Ini dengan melihat keadaansaat itu bahwa tentara berkuasa. Dan biasanya orang itu kalau sudah berkuasaitu tidak mau diturunkan. Dan ternyata benar. NU digebuki. Apalagi eks PKI,korban G30S.

Berkaitan agenda rekonsiliasi, Kiaimenyatakan sekarang sudah saatnya. Yang berdosa kemarin ya sudah.Sekarang ya sekarang tidak terus sekalian anak-anak dikait-kaitkan. “Aku kiyo wis tuo, duso iki. Na koyo NU yo ora iso opo-opo. Nyatane anake ora isokerjo...”, demikian kata Kiai. TAP MPRS pun perlu dicabut. Menurut Kiai,ajaran-ajaran komunis itu juga ada perlunya dipelajari. Sebab Islam juga adasinggungannya di bidang masalah sosialnya. Cuma hal pemaksaan itu yang mungkinperlu dikaji ulang.

Kisah Kiai Sufi

Gus Muda dari eks Karesidenan KeduJawa Tengah bercerita tentang ayahnya, Kiai Kamil[27],dan keluarganya. Meski Gus Muda lahir setelah tahun 1965 dan tidak “menangitragedy 1965-66, tetapi peristiwa politik dan tragedy kemanusiaan 1965 tidaklahasing dan dekat dengan diri dan keluarganya. Gus Muda berkisah, “Waktu itu,ayah saya, kiai pesantren di desa. Ketika peristiwa 1965-66 terjadi, kiaimenyelamatkan beberapa orang yang dikejar-kejar akan dibunuh karena dituduh PKIdan menyembunyikan mereka di dalam pesantren ayah saya. Mereka selamat, meskipesantren ayah waktu itu menjadi gunjingan banyak orang bahwa pesantren ayahadalah pesantrennya orang PKI!”.

Menurut Gus Muda, Kiai melakukan itukarena dua prinsip yang dipeganginya. Pertama Kiai sangat takut fitnah diantara manusia dan akan menghancurkan misi Islam agar menjadi rahmatan lilalamin. Kedua Kiai haqqul yaqin menyadari bahwa kekerasan tidak akanmenyelesaikan masalah, tetapi justru akan melanggengkan dan membesarkanmasalah. “Karena kedua prinsip itu, ayah saya menyelamatkan mereka. Sampaisekarang keluarga mereka masih bersaudara dengan keluarga kami khususnya dankeluarga besar pesantren pada umumnya. Ibu saya mengajari saya memanggil merekadengan pak dhe dan bu dhe.

Kisah eksekutor

Sebut saja namanya Rauf. PendidikanRauf sampai SR. Rauf mantan anggota Sipur tahun 1957, dan ikut menumpas DI/TIIKartosuwiryo. Pada saat peristiwa 1965 terjadi, Rauf baru masuk Islam, pindahdari Jakarta ke Jepara sampai akhirnya menjadi anggota Banser/Ansor.

Rauf mengaku bahwa kejadian diJakarta telah menciptakan ketegangan yang hebat di Jepara. RPKAD show force terjun payung di Kudus. Dan ketika konvoi RPKAD lewat, dengan niat berhati-hatiagar tidak dicurigai, Rauf mengacungkan kepalan tangan dan berseru, “HidupRPKAD! Hidup RPKAD!”. Konvoi berhenti dan Rauf diajak naik truk menujumarkas. Itulah awal hidup baru bagi Rauf yang kemudian harus menjadi pasukaninti; menjadi eksekutor bagi mereka yang dituduh sebagai orang PKI.

Di tengah tugasnya sebagai pasukaninti, berkali-kali Rauf terpaksa harus membunuh orang yang salah tangkap. Rauftidak tahan dan pernah meminta pertimbangan para kiai untuk mengundurkan diridari keanggotaan sebagai pasukan inti. Namun karena pertimbangan nasib hidupRauf sendiri yang terancam jika mengundurkan diri dan juga karena nasihat daribeberapa kiai, akhirnya Rauf tetap melanjutkan tugasnya sebagai eksekutor.

Rauf senang akhirnya dapat bertemudengan anak-anak muda NU Jepara yang mau mendengarkan kisah hidupnya, bahkanmengajaknya dapat bertemu dengan banyak korban 1965 di Jepara. Mulanya Raufmengaku bingung ketika anak-anak muda NU menawarkan Rauf untuk dapat bertemudengan kalangan korban. Tetapi kepasrahan dan ikhlas atas “kebodohan” dirinyasendiri, akhirnya Rauf berangkat mengikuti pertemuan dengan kalangan korbanyang difasilitasi kiai muda di pesantrennya di Jepara. Bahkan juga ikutpertemuan regional antara mereka para korban tragedi 1965 dengan kalangan NU seJawa Tengah di Semarang tahun 2003.
 
Top